Kamis, 11 September 2008

Chapter 1 - A Day of Peace

Di negeri Elensia, selalu ada kedamaian. Setiap pagi, burung berkicau dan ayam berkokok. Semua senang, tidak terkecuali Elfriad, penjaga perbatasan daerah selatan Elensia. Elfriad melayani turis yang ingin ke Elensia yang sangat luas. Setiap harinya, Elfriad dan kawan-kawannya di perbatasan daerah masing-masing harus melayani ribuan orang yang menjadi turis di Elensia. Negeri Elensia termasuk yang teraman di zona Parteria.

Di dunia Qastrane, ada beberapa zona, yaitu Parteria, Wandifia, Ewakien, Dougerni, dan Zainsifed. Negeri Elensia ada di zona Parteria. Ada banyak negeri di dunia Qastrane. Banyak negeri yang menjadi sahabat Elensia. Sang raja bernama Gathir. Raja ini sangat baik. Apapun yang diperlukan warganya akan diberikan.

Setiap pagi, penduduk melakukan aktivitas masing-masing. Tanpa mengeluh sedikitpun. Para petani sangat senang karena musim panen akan tiba sebentar lagi. Anak-anak tidak sabar karena akan ada parade di negeri Elensia. Seluruh penduduk selalu senang. Setiap siang, para penduduk beristirahat dari aktivitasnya. Pada sore hari, Elfriad dan kawan-kawannya harus menjaga perbatasan dengan lebih sigap daripada pagi dan siang harinya. Ketika matahari terbenam, para penduduk menghentikan aktivitasnya.

Kemudian, mereka bersiap-siap untuk tidur. Begitulah yang dilakukan setiap hari oleh penduduk Elensia. Suatu hari, Elfriad merasakan ada yang aneh di Elensia. Dia menuju ke bagian dalam negeri Elensia. Ternyata, seluruh penduduk Elensia berkumpul di istana Elensia. "Ada apa gerangan?" gumam Elfriad. Apa yang telah terjadi di istana Elfriad?

==========================================

Saking penasarannya Elfriad, dia sampai melupakan ribuan turisnya. Untung, dia memiliki beberapa robot. Robot-robot itu ahli melayani para turis. Elfriad melihat di istana, sang raja sedang membuat pameran perhiasan yang dibuat oleh para pekerjanya. Dan perhiasan itu dijual dengan mahal sekali kepada para orang mampu.

Rencananya, uang hasil pameran tersebut akan dibagikan kepada orang miskin. Setelah terkumpul 200 juta Qione (mata uang di Elensia), raja membagi-bagikan uang tersebut kepada rakyat miskin. Rakyat miskin bersorak gembira karena mendapatkan banyak uang. Rakyat mampu senang karena mendapatkan perhiasan yang sangat mahal. Tetapi, orang mampu ini tidak suka pamer. Itulah sisi baik mereka. Orang-orang di sini sikapnya bisa dibilang... sempurna! Setelah Elfriad mengetahuinya, dia kembali ke perbatasan selatan, mengurus para turis, membiarkan robotnya beristirahat.

Pada malam harinya, tiba-tiba, terdengar ledakan dari istana. Suasana panik melanda seluruh Elensia. "Kenapa ini? Kenapa ada ledakan?" gumam Elfriad, sambil berlari sekuat tenaga. Istana diledakkan seseorang dari dalam! Siapakah dia sebenarnya?

Flashback:Tadi pagi, waktu Elfriad melihat-lihat perhiasan, ada yang menginginkan satu-satunya perhiasan yang tidak dijual pada pameran itu. Perhiasan itu adalah kalung yang di bagian depannya terdapat emas 24 karat berbentuk segitiga seberat 25 gram. Orang tersebut ingin membelinya. Tetapi raja menolaknya. Biarpun bernegosiasi dari 100 juta hingga 100 miliar Qione pun, raja tetap tidak ingin menjualnya. Elfriad melihat bahwa orang tersebut membawa beberapa pengawal.

Elfriad datang ke istana. Ternyata, bagian bawah tanah istana diledakkan. Elfriad mencurigai orang yang menginginkan kalung emas segitiga itulah yang mempunyai rencana ini. Tetapi, apakah benar bahwa orang itu pelakunya?

==========================================

Elfriad melihat bagian bawah tanah telah terbakar. Beruntung, para anggota pemadam kebakaran sedang berjaga-jaga di istana. Jadi, api tidak menyebar ke lantai istana yang lebih tinggi lagi. Tanpa banyak bicara, Elfriad pergi dari istana. Besok harinya, tidak ada turis yang datang ke Elensia. Rupanya, para turis telah mendengar berita bahwa ada ledakan di istana. Takut menjadi korban, para turis tidak jadi datang.

Tiba-tiba, Elfriad, Quanre (penjaga perbatasan barat), Shiagen (penjaga istana), dan Etichia (ketua keamanan istana), dipanggil untuk menghadap raja. Raja memberikan tugas untuk mencari tahu siapa yang meledakkan istana, apa motifnya, dan kapan dia merencanakannya.

Maka, mereka berempat segera mengecek bagian bawah istana. "Ada yang aneh..." kata Quanre yang memiliki mata yang sangat tajam. Ternyata, ada serbuk mesiu di situ. "Aku menduga bahwa orang yang meledakkan istana merancang bom dari bawah tanah" kata Quanre. Ada jejak kaki di daerah bawah tanah menuju lantai satu istana. Dan jejak kaki itu ada hingga ke perbatasan selatan. "Hei, jangan-jangan... dia melarikan diri ke hutan Shiore!" duga Elfriad. Maka, segeralah mereka berempat menuju hutan Shiore!

Chapter 2 - The Forest

Elfriad dkk berjalan menyusuri hutan. Membawa berbagai macam peralatan yang telah mereka siapkan. Etichia menjadi pemimpin rombongan. Namun, belum berjalan jauh di hutan, bahkan belum sampai hingga setengah jam, sudah ada para bandit menyerang mereka.

Awalnya rombongan Elfriad dkk kebingungan menghadapi mereka... Namun ketika para bandit menyerang dengan pedang mereka... TINGGGGG!!!! Elfriad dkk. mengeluarkan pedang mereka yang tersimpan di saku celana mereka yang sangat besar. Mereka berhasil menangkis serangan para bandit. Tanpa diduga, Shiagen membuat terkejut kawan-kawannya dan para bandit!

Dia menggunakan kemampuan yang tidak pernah diketahui siapapun juga, bahkan sang raja sekalipun, yaitu sihir angin topan raksasa!!! Dengan Elfriad dkk. ada tepat di tengah-tengah mata topan, Shiagen bisa dengan tenang menggunakan sihir angin topannya!

Tanpa basa-basi lagi, Shiagen langsung menghabisi belasan bandit yang mencoba menghabisi mereka! Setelah berhasil menghabisi kelompok bandit, mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri hutan Shiore.

==========================================

Ketika malam tiba, semua mempersiapkan diri untuk tidur. Mereka kini berada di bagian dalam hutan, dekat bukit Arogei. Bukit Arogei sangat tinggi dari tanah di hutan. Bukit ini dikenal sangat curam. Bahkan, tiga tahun lalu, Etichia menempelkan poster di dinding bukit tersebut yang berisi bahwa bukit Arogei sangat berbahaya bila dipanjat.

Ketika mereka tidur, tiba-tiba... DUAAAARRRRRR!!!!!!! Terdengar ledakan dari bukit Arogei! Elfriad dkk. terbangun dari tidur. Mereka panik karena batu-batu, baik kecil maupun besar, berjatuhan menuju ke bawah bukit. Mereka tidak sempat merencanakan apa-apa jika dari bukit Arogei, batu-batu berjatuhan. Tanpa banyak bicara, mereka kabur secepat mungkin.

Besok paginya, mereka melihat bukit Arogei sangat berantakan. "Siapa yang membuat ledakan di bukit Arogei?" kata Quanre. Setelah mereka sarapan dengan makanan seadanya, yaitu buah apel dari pepohonan di sekitar mereka, mereka pergi dari situ, melanjutkan perjalanan. "Apa yang terjadi? Kenapa selalu ada ledakan? Apakah ada teroris di sekitar sini?" pikir Shiagen.

==========================================

Elfriad dkk. berjalan menyusuri hutan Shiore yang sangat sejuk itu. Hutan Shiore sangat hijau, karena pepohonan terawat dengan baik. Benar-benar tak ada kekurangan pada Elensia. Ya... sempurna.

Quanre merasa ada bau aneh dari arah timur. Ternyata, ada kebakaran hutan! "Sejak kapan kebakaran terjadi? Kenapa aku tidak sadar?" gumam Quanre. Rupanya, bandit yang mereka habisi sebelumnya, ditemukan oleh kawan sesama bandit. Dan untuk membalas dendam, kawanan bandit membakar hutan, karena mereka tahu bahwa kelompok Elfriad dkk. tidak mungkin keluar secepat-cepatnya dari hutan setelah menghabisi teman mereka.

"Lari!!!" teriak Etichia. Suasana panik melanda kelompoknya. "Bagaimana kita harus kabur?" tanya Quanre kepada Etichia. "Lari ke sana!" jawab Etichia sambil menunjuk arah barat. "Cepat, api mengarah ke arah kelompok kita!" teriak Shiagen. "Lari semuanya! Lari!" teriak Etichia.

Tiba-tiba muncul kawanan bandit menghalangi jalan mereka. "Kalian harus... MATI!!!" kata salah satu bandit tersebut. "Akulah yang akan melawannya!" kata Elfriad. "Tidak bisa, aku juga ikut melawan mereka!" kata Quanre. "Kami... juga harus ikut!" kata Shiagen dan Etichia bersamaan. Maka, mereka mulai bertarung dengan para bandit!

Chapter 3 - Motivation to Fight!

Dengan cekatan, Etichia berlari, menebas setiap bandit di hadapannya, bahkan tiba-tiba berlari secepat kilat! Bandit-bandit tersebut mati. Namun, dari arah barat, ribuan bandit muncul untuk membunuh mereka!!!

Apa yang harus dilakukan Elfriad dkk? Pergi ke Wandifia di arah utara? Kembali ke Elensia di arah timur? Menerjang api di arah selatan? Atau mereka harus bertarung dengan ribuan bandit yang berlari menuju mereka?

Beruntung, ada sekelompok tentara perbatasan selatan zona Wandifia yang sedang berpatroli di hutan. Dengan segera, Trifique, ketua regu patroli tersebut, mengirimkan sinyal dengan kembang api. Ribuan tentara Wandifia berdatangan. Namun, dari arah timur, bandit kembali muncul, bahkan dengan jumlah puluhan ribu!!!

Dengan keadaan ini, selain Elfriad dkk., bisa saja zona Wandifia juga akan hancur karena serangan bandit. "Bagaimana ini?" gumam Shiagen. Tiba-tiba, Trifique mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya... dan itu adalah... sinyal berupa kembang api yang lebih besar dari sebelumnya!

Para bandit hampir sampai ke tempat mereka. Tak terduga, Elensia mengirimkan puluhan ribu tentara terbaik mereka! "Yap! Dengan ini kita pasti akan menang!" teriak Trifique. Para bandit tinggal menunggu kematian mereka. Tetapi... para bandit menghalangi jalan para pasukan Elensia, bahkan banyak yang terbunuh. Maka, Elfriad dkk dalam bahaya.

Apa yang akan terjadi nantinya?

==========================================

Elfriad dkk dan pasukan Trifique tiba-tiba berdiam diri. Ketika diserang, mereka tidak terluka sama sekali!!! Ketika kepala mereka dipukul dengan palu, kepala mereka aman-aman saja. Malah palunya yang rusak.

Tanpa diduga-duga... Elfriad dkk dan Trifique menghilang dari pandangan, membuat para bandit bingung. Namun, pasukan Trifique tahu apa yang dilakukan Trifique.

Tak diduga, Etichia muncul dari bagian belakang gerombolan bandit ke depan mereka sambil memegang pedang. Dan, "AAAAAA!!!" para bandit mati tiba-tiba! "Hehehe, itulah strategiku!" kata Etichia.

Shiagen melempar bom tepat di tengah para bandit. Dan, DUAAAARRRRRR!!!!!! Tanpa sempat menghindar, para bandit pun mati karena ledakan. "Kalian pantas mendapatkan itu!" kata Shiagen.

"Masih ada banyak bandit lagi!" teriak Trifique. Trifique menghilang secara misterius, tetapi tiba-tiba muncul dari lokasi tempat meledaknya bom yang dilempar oleh Shiagen sebelumnya. Dan... dengan sekali tebas, banyak bandit mati seketika. "Lanjutkan, kawan!" kata Trifique.

Quanre segera bergerak dan memegang pedangnya. Tiba-tiba di tangannya, pedang tersebut menjadi dua! Dengan cepat, Quanre menebas para bandit dengan berlari ke arah bandit dan langsung membunuhnya. "Banyak juga yang mati. Baguslah!" kata Quanre.

Dan Elfriad, langsung menancapkan pedangnya ke tanah. "Apa yang ia lakukan?" gumam Quanre. "Awas semuanya!!!" teriak Elfriad. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

==========================================

Semua orang menjauh dari tempat tersebut. Para bandit bengong saja melihat mereka pergi. Dan... "AAAAAAAAA!!!!!!!!" para bandit berteriak sangat kencang. Rupanya, mereka ditusuk dari bawah!!!

"Bukankah itu..." pikir Quanre. "Dia pasti..." pikir Shiagen. "Bagaimana mungkin..." pikir Etichia. Mereka pun mengerti apa yang sedang terjadi saat itu...

Tanpa membuang banyak waktu, tim Elfriad kabur secepat mungkin dari kobaran api yang ada di depan mereka. Dengan bantuan Trifique, mereka dapat masuk ke dalam zona Wandifia.

Malam harinya, tim Elfriad berkumpul di halaman depan tempat pelatihan tentara zona Wandifia. Semua kawan Elfriad terkejut mengapa Elfriad tiba-tiba menjadi sekuat itu. "Baiklah, begini ceritanya..." kata Elfriad...

Chapter 4 - The Ultimate Plan!

Elfriad mulai bercerita...

Dulu, ayahnya adalah seorang komandan di Elensia. Dia selalu memperhatikan kondisi Elensia... Dia juga ramah, baik hati, dan peduli pada sesama... Suatu hari yang cerah, pasukan dari zona Zainsifed menyerbu Elensia!!!

"Ini gawat, Raja! Apa yang harus kami lakukan?" tanya ayah Elfriad kepada raja. "Kuatkan pertahanan! Siapkan para penduduk tombak dan pedang secepat mungkin!!!" perintah raja. Tentara-tentara kerajaan langsung menyiapkan tombak dan pedang.

Saat itu Elfriad masih berumur 15 tahun. Dia disuruh ayahnya menggunakan pedang dari mineral Quedira, satu-satunya mineral terkuat di Qastrane. Dengan pedang itu, Elfriad merasa biasa saja.

Tetapi, ketika Elfriad mulai beraksi, muncullah sebuah kemampuan sakti dari pedang tersebut!!! Dan, ketika ditancapkan ke tanah secara tak sengaja oleh Elfriad... DHUUUAAARRRR!!!!!! Elfriad dengan cepat melompat ke belakang.

Tentara zona Zainsifed banyak yang gugur. Dengan cepat, setelah perwakilan zona Zainsifed menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh raja Elensia, negeri Elensia berdamai dengan zona Zainsifed.

"Begitulah ceritanya kenapa aku bisa seperti tadi..." kata Elfriad. "Hei!" kata Quanre. "Itu pasti kekuatan keluargamu, iya kan?" tanya Quanre. "Betul!" jawab Elfriad. Tiba-tiba...

"Lapor, tentara Zainsifed menyerang Wandifia!!!" samar-samar terdengar suara laporan tentara kepada raja negeri Wanerio, negeri tempat mereka sekarang berada.

"Apa? Zainsifed menyerang Wandifia?" teriak Elfriad. "Kita harus bergegas menemui raja, siapa tahu ada yang bisa kita bantu." kata Etichia. Mereka menemui raja secepat mungkin...

==========================================

Elfriad dan teman-temannya bergegas menemui raja di Wandifia. "Ada yang bisa kami bantu, Yang Mulia?" tanya Quanre sambil bersujud dihadapan raja, disusul teman-temannya. "Aku baru ingin memanggil kalian," kata raja kepada keempatnya. "Begini, Wandifia diperas Zainsifed sebesar 700 juta Nouve (mata uang di Nohrie, daerah selatan Wandifia, tempat raja Wandifia tinggal), dan itu, coba bayangkan, sama dengan berapa milyar Qione?" kata raja. "Nouve dan Qione itu beda?" tanya Shiagen. "Ya, itu betul! Ingat, 1 Nouve itu... 500 Qione!!! Jika mereka meminta 700 juta Nouve..." tiba-tiba sang raja berhenti berbicara.

"Apa?????" teriak raja sangat keras. "Zainsifed, kalian kejam sekali! Kenapa kami harus membayar sebanyak itu?????" teriak raja lagi. "Sebanyak apakah 700 juta Nouve dalam uang mata Elensia, raja? Kenapa Anda sangat marah?" tanya Etichia. "Itu artinya... 350 milyar Qione, kalian tahu?????!!!!!!" kata raja dengan muka merah padam yang menandakan bahwa ia sedang marah besar. "APA YANG BARU SAJA ANDA BILANG, YANG MULIA????????????????????" teriak Elfriad dan teman-temannya. Bahkan Shiagen dan Etichia pingsan. Quanre sangat merinding membayangkan berapa yang harus dibayar zona Wandifia...

"Uh, bagaimana ini???" raja sangat gelisah. "Kami akan menolong!" kata Elfriad. "Apa kau tidak memikirkannya? Kalau mereka meminta hingga 700 juta Nouve, pasti jika ditolak, mereka akan membawa 700 juta tentara juga kan?" seru Quanre. "Tenang, kawan..." jawab Elfriad dengan kalemnya...

Dua hari kemudian, setelah Shiagen dan Etichia sadar... "Di mana ini?" tanya Shiagen kepada Quanre yang menjaga dia dan Etichia di ruang peristirahatan istana. "Di ruang istirahat," jawab Quanre. "Uh, 700... ju... ta... Nouve... be... nar... kah... itu..." kata Shiagen terputus-putus. "Aku sendiri juga kaget," ujar Quanre.

"Uh, tujuh ratus... ju... ju... jut... ta... tujuh... ratus... ju... ta... Nou... Nouve..." Etichia sadar dan berbicara lebih buruk daripada Shiagen. "Tenang saja. Elfriad sepertinya sedang mencari ide untuk mengalahkan Zainsifed," kata Quanre. "APAAAAA???" Etichia langsung berteriak dan kembali pingsan.

==========================================

Elfriad sedang berada di dalam ruang penyusunan taktik. "Hmm, Zainsifed ada di sebelah utara Wandifia, kemudian Zainsifed dan Wandifia terpisah oleh lautan, dan Elensia berada di tengah-tengah kedua zona ini..." gumam Elfriad.

"Hei, benar juga! Aku akan berlayar dari barat, Etichia dan Shiagen berlayar dari timur, dan Quanre akan menyerang dari belakang, dimana ketiga tempat itu tidak dilindungi!" gumam Elfriad senang.

Maka, Elfriad mengabarkan ini kepada kawan-kawannya beberapa jam kemudian. "Ide hebat!" komentar Etichia. "Itu bagus!" kata Shiagen. "Itu dia! Akhirnya, tanpa perlu pusing menunggu, mari kita habisi tentara-tentara itu!" seru Quanre.

Mereka berpesta di istana sebelum mereka menaiki sampan untuk menuju Zainsifed. Esoknya, pagi-pagi buta, Elfriad, disusul kawan-kawannya, bangun untuk mempersiapkan diri.

"Kami mendoakan agar kalian selamat," kata raja, mewakilkan zona Wandifia, untuk mendoakan Elfriad dan kawan-kawannya agar selamat dalam perjalanannya. "Itu pasti. Betul kan, kawan-kawan?" tanya Etichia kepada kawan-kawannya. "Ya, itu betul!" seru Elfriad, Shiagen, dan Quanre.

Dan mereka pun pergi dari Wandifia. Mereka memulai sebuah perjalanan panjang menuju Zainsifed. Hanya berempat... Ya, berempat. Semoga mereka bisa kembali dengan selamat...

Chapter 5 - Unforgettable Event on Naretia

Elfriad mengayuh sampannya menuju arah barat, sementara Shiagen dan Etichia menuju arah timur, dan Quanre yang mengarah ke belakang Zainsifed. Tanpa banyak berbicara, mereka langsung pergi dari pelabuhan di Wandifia Utara...

Elfriad dan Quanre sudah tahu bagaimana caranya pergi ke barat dan belakang Zainsifed yang tergolong sulit karena tanah longsor sering terjadi. Saat Elfriad mengetahui itu dari Quanre, dia berpikir, "Zainsifed sudah mendapat senjata secara tidak langsung..."

Sementara itu, Shiagen dan Etichia tidak begitu mengetahui keadaan di barat dan belakang Zainsifed. Mereka hanya mengetahui bagian timur dari Zainsifed yang tergolong cukup baik jalannya sehingga dapat dilewati dengan mudah. Karena itulah, mereka ditugaskan melalui arah timur.

Namun, baru saja di depan celah pegunungan Naretia, pegunungan yang paling besar di dalam daerah kekuasaan Zainsifed, tiba-tiba seluruh anggota tim dicegat oleh tentara Zainsifed dalam waktu bersamaan! Dan mereka melihat pasukan Zainsifed menggunakan meriam sebagai senjata mereka.

Kini, tim negara Elensia ini, harus mengayuh sampan mereka secepat mungkin agar tidak tertembak meriam. Jika mereka gagal, nyawa mereka akan melayang. Bisakah mereka kabur dari serangan tidak terduga ini?

==========================================

"Hmm... meriam ini cukup berbahaya juga..." gumam Elfriad. DOR! Sebuah meriam pun ditembakkan ke arah Elfriad. Tiba-tiba, muncul sesuatu seperti penahan, yang menahan laju bola meriam. Elfriad melanjutkan perjalanannya dan membiarkan penahan itu di tempatnya. Elfriad mengayuh dengan cepat sekali agar tidak terkena meriam.

"Cepat!" teriak Shiagen. Etichia mengayuh sampan sekuat tenaga, bersama Shiagen. Tiba-tiba, DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! Sepuluh buah meriam ditembakkan satu persatu. "HAA??? Apa mereka sudah gila, menembakkan sepuluh buah meriam?" seru Shiagen. Tetapi, ZING! "Barrier of Block!" Etichia mengangkat tangan kanannya dan muncullah sebuah benda yang menahan meriam-meriam yang menyerang mereka. Keduanya melanjutkan perjalanan secepat mungkin.

"Bagaimana mungkin? Bukannya di sini..." Quanre terheran-heran. Dia tahu, bagian belakang Zainsifed biasanya tidak dijaga. "Oh iya!" Quanre mendapat akal. "Land Wind!" Quanre mengendalikan angin di sekitarnya. Dia mengayuh sampannya dan sampan itu bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. DOR! DOR! DOR! Tiga buah meriam ditembakkan ke arah Quanre, tetapi semuanya gagal dan malah menembakkan gunung tersebut. BRUK! BRUK! Gunung di bagian belakang Zainsifed mulai hancur. "Aku harus bergegas!" seru Quanre.

Bisakah keempat orang ini selamat dari ancaman-ancaman yang dapat membunuh mereka?

==========================================

Elfriad segera mengayuh sampannya, tidak peduli apa yang terjadi. DOR! Sebuah meriam meluncur ke hadapannya. BLASH! Air di depan sampan langsung terbelah menjadi dua. "Beginikah kekuatan meriam Zainsifed?" gumam Elfriad di dalam hati.

Shiagen dan Etichia langsung melewati gunung yang ada di dekat mereka, sebuah gunung yang berada di pegunungan Naretia. Tanpa banyak bicara, mereka menghindar dari meriam-meriam yang menembaki mereka. DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! "Bagaimana ini?" tanya Shiagen kepada Etichia. "Sudahlah, biarkan saja mereka menembaki kita. Lama-lama meriam mereka juga akan habis kok," jawab Etichia.

Quanre berhadapan dengan meriam dan tanah longsor. Dialah yang mengemban resiko paling tinggi diantara teman-temannya. "Aku harus bisa, berjuang untuk melewati tantangan ini!" seru Quanre. Dia mulai mengayuh sampannya dan bergerak sangat cepat, bahkan mengalahkan kecepatan meriam sekalipun.

Keempat orang yang ada dalam bahaya... Bisakah mereka selamat dari segala sesuatu yang mengancam hidup mereka?

Chapter 6 - Destiny of the Four

Karena tak tahan ditembaki meriam, Elfriad menjadi kesal dan marah. Seluruh emosinya dikeluarkannya. "Mark of Enrage!" Elfriad mengangkat tangan kanannya dan membentuk jari telunjuk dan jempolnya menjadi sebuah lingkaran, dan bagian tengah lingkaran itu diarahkannya ke tengah-tengah kepalanya.

Tiba-tiba, Elfriad merasakan sebuah aura yang sangat panas. Perlahan-lahan, dia merasa seluruh tubuhnya terbakar dalam emosi. Elfriad hampir tidak mampu mengendalikan kekuatan emosinya. Ketika dia berhasil mengendalikannya, kekuatannya bertambah 12 kali lipat. Mark of Enrage adalah jurus tersembunyi dari Elfriad.

Waktu kecil, ayahnya pernah mengajarinya jurus itu. Ayahnya tidak dapat mengendalikan emosinya pada saat menggunakan jurus Mark of Enrage. Maka, ayahnya selalu gagal menggunakan jurus itu. Tetapi, Elfriad berhasil mengendalikan emosi yang meluap-luap yang disebabkan oleh para pengkhianat Elensia, 2 tahun sebelum Zainsifed menginvasi Elensia.

"Kau akan kubunuh, para penjahat!" teriak Elfriad pada masa sekarang.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

==========================================

Shiagen dan Etichia masih berjuang untuk bebas dari serangan Zainsifed. Tiba-tiba saja, "Might of Iron!" Etichia menggengam pedangnya dan tiba-tiba kilat berwarna kuning muncul dan mengenai pedang Etichia. Dan ketika dia memegang pedangnya, dia merasakan tenaganya mulai bertambah.

"Steel Defense!" Shiagen mengepalkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya ke atas. Tak diduga, muncul sebuah cahaya berwarna perak. Ketika mereka ditembak meriam, meriam itu terpantul begitu saja. Hanya orang yang menggunakan Might of Iron saja yang dapat menembus cahaya itu. Dan yang memiliki kekuatan itu sangat langka. Diantara 200.000 orang, hanya 1 yang bisa memilikinya.

Salah satu pemilik Might of Iron itu adalah Etichia. Dia meminta Shiagen mendekatkan kapal ke arah dinding. Etichia mulai memanjat dinding tebing itu setelah Shiagen membantunya. Tak disangka, Etichia dengan cepatnya memanjat dinding tebing tersebut.

"Kau tak akan kumaafkan!" seru Etichia ketika dia hampir sampai ke atas gunung.

Apakah Etichia berhasil mengalahkan musuh-musuh yang telah ada di dekatnya itu?

==========================================

Quanre kelelahan di tengah jalan karena terlalu cepat mengayuh sampan. "Huh, bagaimana ini?" Quanre kebingungan, sementara gunung itu mulai longsor lebih cepat. Tiba-tiba, "Unlimited Energy!" Quanre berdiri dan menggerakkan tangannya. Dia membuat gerakan putaran tangan. Kedua tangan ia putar terus menerus.

Di saat putaran ke-44, muncullah sebotol ramuan entah darimana. Di depan ramuan tersebut tertulis "44-UNLIMITED". Quanre harus memutar tangannya 44 kali, barulah dia mendapatkan potion "44-UNLIMITED". Padahal Quanre lamban saat memutar tangannya. Untunglah tidak ada satu meriam pun yang mengenainya.

Ketika dia meminum ramuan tersebut, tubuhnya terasa sangat kuat. Dia mulai memegang pengayuh sampannya. Dengan cepatnya, sampan tersebut bergerak menuju Zainsifed.

"Untuk apa kalian menembakkan meriam itu? Sudah pasti itu akan gagal semua!" teriak Quanre dengan percaya diri.

Mampukah Quanre menuju Zainsifed?

Chapter 7 - Zainsifed - Reached!

Ketika Elfriad menjadi sangat mengerikan karena Mark of Enrage, tidak ada yang bisa menghentikannya. Dengan kekuatan sekuat 100.000 EX (Extreme X-Power, satuan kekuatan seseorang) yang termasuk sangat tinggi, dia menghancurkan pegunungan Naretia.

"Oh tidak! Lari!" seru komandan pasukan meriam kepada seluruh pasukannya. Dia memerintahkan tentaranya untuk kabur dari pegunungan itu.

Shiagen masih mempertahankan Steel Defense-nya agar dia tidak terluka sama sekali. Dengan kecepatan tinggi, Etichia memanjat dinding tebing. Sementara itu, musuh masih menembaki mereka. Dan ketika Etichia sampai, dia menghajar para pasukan meriam tersebut dan melempar mereka ke area Steel Defense, yang mengakibatkan mereka terluka parah. Shiagen pun segera menonaktifkan Steel Defense-nya. Begitu pula dengan Etichia.

Quanre masih beraksi untuk kabur dari serangan musuh-musuhnya. Dengan cepat ia mengayuh sampannya. Ketika di depannya tiba-tiba ada tanah longsor, Quanre langsung menerobos tanah longsor itu. "Aku... harus sampai!" teriak Quanre, hingga terdengar ke seluruh Pegunungan Naretia.

==========================================

Akhirnya Elfriad sampai duluan di pinggiran daerah Zainsifed. Tidak diduga, banyak tentara telah menantinya di daerah itu. Rupanya salah satu pasukan meriam telah melaporkan kejadian ini kepada komandan pasukan daerah barat. "Kau akan mati!" seru salah satu pasukan.

Shiagen dan Etichia memasuki daerah Zainsifed. Dan seperti Elfriad, mereka juga menemui banyak tentara secara tiba-tiba. "Mati kau!" teriak salah satu pasukan kepada Shiagen dan Etichia. Keduanya menjadi panik. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan...

Quanre berhasil masuk ke daerah Zainsifed. Sesuai keadaan ketiga temannya, dia juga terkena serangan tak terduga itu. "Untuk apa kau melarikan diri?" sahut seorang prajurit kepada Quanre. "Hah! Aku tak akan mundur!" teriak Quanre sekencang mungkin.

==========================================

Elfriad mulai beraksi melawan musuh-musuh tersebut. Ada yang menggunakan panah, ada juga yang memakai pedang. Elfriad dihadapkan pada tantangan yang menyulitkan dirinya. Ketika panah mulai menghujaninya, kemampuan menangkis panahnya dipertanyakan. Tetapi dengan lancar, dia berhasil menangkis semuanya.

Shiagen dan Etichia berhadapan dengan para penembak ulung. Shiagen yang bermodalkan sebuah senapan laras panjang dengan Etichia yang membawa sebuah pedang besar menangkis peluru-peluru di hadapannya dengan apa yang mereka bawa.

Quanre berhadapan dengan Stealth Warrior, tentara tersembunyi yang tidak bisa terlihat. Tampaknya Quanre-lah yang mendapatkan tantangan tersulit diantara teman-temannya, sekalipun kali ini dia bermodal sepasang pedang.

Keempat orang ini akan mempertaruhkan nyawa untuk bisa sampai dan menghentikan keinginan raja Zainsifed untuk menginvasi seluruh Qastrane. Bisakah mereka menghabisi para prajurit tersebut?